Pengalaman Touring pertama kali, nyewa Astrea Grand menjelajah Gunungkidul

Pengalaman Touring pertama kali

Pengalaman Touring pertama kali, nyewa Astrea Grand menjelajah Gunungkidul –

Psychomotive.net // Haill Brad’s… Sedikit bernostalgia saat remaja bareng konco kentel sejak SD nih. Memiliki kesamaan hobby di perantauan inilah pengalaman Touring pertama kali.

Pengalaman Touring pertama kali

Yaps cerita ini sekitar tahun 2001 silam bersama teman semenjak kecil dari SD di kampung sampai STM di Jakarta. Sama sama memiliki Hobby berpetualang dan di bidang Otomotif membuat kami berdua sering menjelajah mengikuti naluri dengan modal seadanya. Mulai dari jalan jalan sampai menjelajah ke tempat terpencil yang penting memberikan tantangan dan pengalaman baru. Tujuan kami waktu itu mengeksplore Wilayah Gunungkidul yang merupakan tanah kelahiran kita nih.

Karena begitu banyak informasi tentang wisata dan keunikan lainya di wilayah ini tentu membuat kami semakin tertantang dan penasaran. Meski berasal dari Daerah ini pengetahuan kita masih terbatas dan belum menguasai wilayah karena keterbatasan informasi di zaman itu. Karena penasaran akhirnya rencana menelusuri Kabupaten Gunungkidul yang memiliki luas 1.485 km2 tersebut terwujud juga.

Menyewa Astrea Grand buat Touring

Nah mendengar istilah Touring anak Zaman sekarang pasti terbayang dengan Motor keren, Riding Gear yang kumplit serta alat Dokumentasi modern. Dan tentunya terkoneksi dengan Sosmed sebagai bukti bahwa kita benar-benar telah mengunjungi tempat tertentu. Hehehe salah besar karena Zaman itu motor masih mahal dan belum terjangkau oleh kantong pelajar macam kita. Apalagi kita tak ada mental mengemis di belikan motor sama ortu karena tau diri dengan keadaan. Akhirnya kami patungan untuk menyewa motor, BBM, jajan dan Film untuk tustel merk Canon sebagai alat Dokumentasi.

Menyewa motor pun di Desa sebelah dengan tarif Rp 50.000,- sehari dan hanya tersedia Astrea Grand tahun 1996. Itupun tak jadi masalah karena dapet sewaan motor pun sudah beruntung karena di hari lebaran cukup banyak penyewa yang antri. Setelah dengan perencanaan matang pagi-pagi sekali kita udah mandi sarapan dan tampil ganteng maksimal berstandar anak STM waktu itu. Setelah mengisi BBM Full tank untuk perjalanan jauh kamipun mulai gas tipis tipis mengikuti naluri dan marka jalan menuju Pesisir Selatan Gunungkidul.

Mengunjungi tempat Wisata Gunungkidul

Tahun 2001 semua akses masih manual Brad’s… Belum ada HP Android maupun Maps Digital hanya bermodal feel dan GCP (Global Cocot Position) alias takon takon pada penduduk. Baik tentang arah maupun Realtime kita saat itu. Menyusuri Rute Eromoko, Pracimantoro kearah Barat Mbedoyo membuat kami terkagum-kagum bak manusia yang baru keluar dari Goa. Yaps begitu Indah dan bervariasinya wilayah ini dengan Gugusan Gunung sewu yang selama ini kami dengar lewat cerita dan berita.

Keramahtamahan penduduk lokal juga membuat kita terkesima yang berbanding terbalik dengan daerah yang gersang dan kekeringan ini. Kamipun segera mengambil arah menuju Pantai Siung kemudian berfoto ria di sana, kemudian melanjutkan perjalanan kearah timur melalui sisi selatan. Jalur pegunungan yang naik turun curam dan memberi pengalaman baru ini cukup memacu adrenalin. Di tambah baru seneng senengnya naik motor membuat Astrea Grand di geber habis sampai bau sangit untuk menaklukan medan yang lumayan ekstrim. Kombinasi kedua rem tromolpun seakan kedodoran dan kehilangan cengkeraman mengimbangi riding style kami yang secara bergantian menjadi joki siang itu.

Minimnya pengetahuan Safety riding

Nah di segmen ini baru deh terpakai betapa pentingnya pengetahuan tentang safety riding. Terutama keselamatan berkendara di medan yang asing mulai dari cara mendahului,melewati turunan dan Blindspot. Ditambah gejolak jiwa muda dalam berkendara yang memberi bumbu dramatis dalam perjalanan ini. Sampai pada puncaknya dari kejauhan nampak pesisir pantai dengan deburan ombak berwarna biru terlihat begitu indah. Membuat Tri Mulyono yang menjadi joki terlalu bersemangat memuntir gas agar lebih cepat sampai ke pantai Brad’s…

Tapi ternyata ternyata bukan pantai yang kami temui tapi dataran luas berumput hijau dan merupakan sebuah tebing batu karang raksasa. Tanpa pembatas dan langsung menuju jurang dengan kedalaman sekitar 50an meter yang langsung terkoneksi dengan laut selatan. Sedikit panik dan melakukan hardbraking motor pun di banting ke arah kiri untuk menghindari nyemplung ke laut atau mati konyol. Jika tak bisa menghindar mungkin kami berdua dan motor akan lenyap di telan laut tanpa jejak. Karena tempat yang begitu sepi tanpa ada orang yang melihatnya,dan mungkin cerita ini takan pernah ada. Sebagai kenang kenangan kami berfoto di tepi jurang sebelum meninggalkan tempat ini.

Panasnya terik Matahari pun tak kami hiraukan karena terganti dengan petualangan yang cukup mengasyikan. Siang harinya sampailah di perbatasan Wonogiri bagian selatan untuk mencari POM Bensin karena BBM mulai menipis. Stok BBM di SPBU yang habis memaksa kami mengisi bensin eceran dengan harga mencekik yaitu Rp 10.000,-/liter saat itu. Awalnya akan melanjutkan perjalanan ke Pacitan tapi kami urungkan dan tujuan berubah mencari lokasi Goa Song Gilap yang ceritanya cukup menarik perhatian. Lokasinya cukup sulit dai cari sehingga harus sering bertanya pada warga setempat tentang keberadaan Goa ini.

Betul saja kami harus melalui jalan terjal berbatu yang cukup jauh masuk ke pedalaman. Posisinya berada di ketinggian membuat Astrea Grand cukup kedodoran dalam bermanuver menaklukan tanjakan. Akhirnya sampailah kami di Goa Song Gilap untuk menebus rasa penasaran pada tempat ini. Lokasinya berada di puncak gugusan Gunung sewu atau sering di sebut cempluk (gunung mini batu karang). Lokasinya cukup sepi dan singup dengan aura mistis yang cukup kental, bulu kuduk yang sedari tadi prindang prinding memberikan sedikit rasa gelisah. Ternyata akses menuju song Gilap sedikit mengerikan karena harus turun ke lorong yang di atasnya terlihat bekas longsoran. Terdengar suara menggerunggung seperti aliran air dari dalam goa yang menambah rasa gentar di dada. Untuk mencegah hal yang tak di inginkan kamipun mengurungkan niat masuk ke dalam Goa yang sudah tak terurus tersebut. Dan hanya beberapa kali berfoto di area sekitaran Song Gilap.

Kesan pertama Touring bikin ketagihan

Tak terasa waktu sudah menjelang sore hari yang memaksa kami beranjak dari tempat ini untuk menuju pulang. Tak ada rasa lelah dan kapok dengan beberapa kejadian yang hampir membawa kami pada bahaya. Tapi rasa senang dan bangga serta merencanakan untuk Touring lagi pada liburan sekolah Lebaran tahun depan. Kamipun menyusuri rute pulang dengan lebih santai sembari mencari makanan favorit yaitu Mie Ayam untuk mengganjal perut yang mulai lapar. Dari pengalaman ini menambah pengetahuan kami tentang keindahan dunia di luar sana dengan berbagai macam ke ragamnya. Serta pentingnya mempersiapkan Riding gear standar untuk keselamatan berkendara yang akan diaplikasikan tahun depan.

Yaps itulah tadi cerita pengalaman Touring pertama kali Brad’s… Kalau ente gimana…? Oasti punya pengalaman yang lebih menantang ya hehehe… Semoga bermanfaat… Salam Cah Nggunung…

By JeckminatoR☠

Platar Ombo Hills Gunungkidul, bukan warung kopi biasa

Riding malam sendirian dari Sumedang, Horor gan

Iklan Jadul Honda Astrea Star di koran tahun 1987

Yamaha F1ZR motor 2tak Idola masa lalu

Mudik pake Suzuki Thunder 125, woh begini rasanya

Remote Yamaha Lexi hilang, simak solusi dan tipsnya brad’s

Review Isuzu Panther Touring 2004, Rajanya Diesel Mbah

2 thoughts on “Pengalaman Touring pertama kali, nyewa Astrea Grand menjelajah Gunungkidul

  1. nyurung motore kok ora di lebok ke..kondisi grand e wis super duper parah..komstir oblak wes speleng ban tips..nak iso ngomong motor grand pasti kibarkan berdera putih..lengkap pokoke..penderitaan motore

Makasih dah mampir brad's... yang mau ninggalin jejak monggo...

%d blogger menyukai ini: