Mudik pake Suzuki Thunder 125, woh begini rasanya

Mudik Pake Suzuki Thunder 125

Mudik pake Suzuki Thunder 125, woh begini rasanya

Psychomotive.net // Haill Brad’s… Sebagai Rider yang hoby motoran, melakukan perjalanan jauh tentu memberikan keasyikan tersendiri. Seperti yang ane rasakan waktu ritual mudik pake Suzuki Thunder 125.

Mudik pake Suzuki Thunder 125

Yaps pengalaman ini sudah cukup lama yaitu sekitar Lebaran tahun 2014. Perjalanan dari Cikarang – Gunungkidul bagian utara ini akan menempuh jarak kurang lebih 600 kilo meter. Hanya sekadar membuktikan ketangguhan Motor Sport Touring dari Suzuki Brad’s. Kebetulan Istri ngotot mau ikut karena ga mau naik Bis, yowis lah budyalll. Lanjut melakukan prepare baik perbekalan, kunci-kunci dan jas hujan kamipun siap membajak Jalur Pantura. Saat itu jalur ini merupakan akses utama menuju Jawa Tengah yang membuat semua jenis kendaraan tumplek blek di jalur ini. Prediksi mulai simpang Jomin kemacetan akan sangat luar biasa seperti tahun sebelumnya. Waktu itu H-3 lebaran janjian sama adek (Scorpio Z) & temanya (Jupiter MX135) start jam 3 siang dari Cikarang. Tapi karena molor akhirnya berangkat duluan deh berharap nanti bisa jumpa di Pantura.

Suzuki Thunder 125
Suzuki Thunder 125

Perjalanan mudik

Sekitar abis Ashar isi BBM jenis Premium Fulltank sekitar 12 liter untuk mendapatkan jarak tempuh lebih jauh. Perjalanan di mulai dengan menyusuri jalan tembus Cikarang Selatan-Citarik dan langsung menyatu dengan pemudik di jalur Cikarang Karawang. Suzuki Thunder 125 pun mulai menunjukan kinerja mesin saat mengeksplor jalur ini. Kondisi lalulintas yang padat memaksa bermain stop n go dengan tarikan yang Smooth terasa banget kedodoran di tiap akselerasinya. Saat jalanan agak kosong kecepatan maksimum bisa tembus 105 km/jam, itupun butuh waktu dan jarak yang lumayan. Mungkin karena kondisi motor yang standar ting ting dan berboncengan dengan mengandalkan mesin 125cc, jadi ya harap maklum. Sampai di Jl baru Karawang arus di alihkan melalui jl Syech Kuro-Majalaya tembus patok besi Subang.

Jalanan semakin padat oleh pemudik motor maupun mobil yang membuat perjalanan melambat. Pas masuk waktu berbuka puasa akhirnya mlipir ke warung tenda pecel lele, pesen 2 porsi nasi ayam dan teh manis deh. Harganya cukup fantastis yaitu Rp 90 ribu untuk menu di atas yang membuat saya kapok makan di tempat seperti ini brad’s. Perjalanan berlanjut dengan kecepatan rata-rata 60-80 KPJ di jalur Indramayu Cirebon. Hujan menyambut kami di kota Udang yang memaksa menggunakan mantel sambil melirik Indikator BBM ternyata masih di posisi Full.

Memasuki Jawa Tengah

Setelah meninggalkan Cirebon dalam kondisi hujan perlahan-lahan kami tenggelam di Euforia kemacetan arus mudik Jawa Tengah. Karena perjalanan malam hari Kondisi mesin cukup stabil dan ga Overheat, mesin tetap halus dan nyaman. Shock breaker depan belakang pun bekerja cukup sempurna meredam benturan aspal bergelombang di jalur ini, empuk banget. Ergonomi yang baik terasa cukup nyaman baik pada tangan, punggung maupun kaki saya dan Istri. Bagian Jok yang sedikit keras terutama bagi pembonceng memaksa untuk beristirahat sekitar jam 11 malam karena pantat terasa panas. Tidur sekitar 2 jam membuat kami di Overtake secara diam-diam oleh adek saya. Akhirnya menyiapkan strategi pengejaran setelah bersiap start jam 1 dinihari. Menaklukan rute Pekalongan-Batang-Alas Roban sampai kendal ternyata tak mampu juga mengejar Scorpio CS Brad’s. Akhirnya jam 8 pagi istirahat di daerah Solo tigo sekitar 2 jam untuk memulihkan kondisi fisik sambil makan-makan dah.

Finish Mudik di Gunungkidul

Kembali bergabung dengan pemudik di Jl Solotigo Boyolali kemacetan luar biasa pun menyambut kami. Butuh Ektra tenaga untuk menaklukan kemacetan di jalanan naik turun dengan terpanggang terik matahari yang makin menyengat. Jam 12 siang akhirnya terlepas dari cengkeraman neraka macetnya Kota susu murni ini membuat hati sedikit lega. Langsung ambil jalur alternatif menuju Jatinom penggung membuat semangat ini makin terpacu. Tapi indikator BBM akhirnya melorot di posisi merah , langsung isi Full Premium sekitar 70an rebay saja. Alhamdullilah sekitar jam 3 sore akhirnya kami bersama Suzuki Thunder 125 mendarat dengan selamat di kampung halaman tercinta. Kesimpulannya Motor Sport (banci) ini sebenarnya cukup tangguh, nyaris ta ada trouble saat perjalanan mudik dengan kondisi jalan yang bervariasi. Mesin tetap halus, tidak overheat serta aman dari Selip kopling. Shock breaker depan dan belakang cukup nyaman, dan handling mantab. Desain rangka menghasilkan ergonomi yang bagus sehingga motor begitu stabil dan nyaman. Mesin 125cc di padu dengan karburator vakum Mikuni terbukti efisien dalam konsumsi BBMnya.

Suzuki NEX II 2020 terbaru, pilihan warna dan harganya

Suzuki NEX II Cross, inovasi setengah hati

Mengatasi Mio mati mendadak hilang kompresi, begini solusinya

Jadwal Bus Haryanto Pagi, alamat agen dan no teleponnya

Review Isuzu Panther Touring 2004, Rajanya Diesel Mbah

Harga Suzuki GSX-R150 2019, pilihan warna dan spesifikasinya

Spesifikasi Suzuki Thunder

Kebetulan Motor yang Mas Jecks Gunakan adalah Suzuki Thunder 125 2009 warna abu-abu yang elegant. Dengan Power Max 11,8 PS @9,000rpm serta Torsi Max 9,4 Nm @7,500 membuat kita tak bisa menuntut kecepatan dan akselerasi lebih deh. Jadi ya maklum aja jika perjalanan mudik kali ini lebih lambat dari biasanya hehehe… Wong bobot motornya sendiri udah berat, di tambah 2 penumpang pasti makin abot. Tentang kekurangan dan kelebihan motor ini udah saya ulas di artikel: Review Suzuki Thunder 125 Yaps itulah tadi sekilas pengalaman mudik pake Thunder 125 brad’s… Ada yang punya pengalaman sama…? Semoga bermanfaat… Salam Cah Nggunung…
By JeckminatoR☠

Makasih dah mampir brad's... yang mau ninggalin jejak monggo...

%d blogger menyukai ini: